Apakah Lulusan Luar Negeri Lebih Baik dari Lulusan Dalam Negeri?

Lulusan Luar Negeri masih mendapat tempat eksklusif di mata sebagian banyak orang Indonesia, terutama dari negara-negara maju seperti Amerika, Eropa, Jepang dan negara maju lain. Bahkan lulusan luar negeri tetangga ASEAN seperti Singapura dan Malaysia pun medapat tempat khusus juga. Padahal rentang tahun 60-70an sistem pendidikan Indonesia menjadi acuan bagi Malaysia, bahkan ada yang belajar ke Indonesia. Namun hal tersebut tidak berjalan lama. Malaysia sekarang meninggalkan Indonesia dalam bidang pendidikan.Menurut webometrics 2016, Universitas terbaik di Malaysia adalah University of Malaya yang berada di rangking 404 dunia, sedang Indonesia adalah Universitas Gajahmada dengan posisi 724 dunia.

Apa yang membuat lulusan luar negeri begitu eksklusif di mata sebagian orang Indonesia?

Hal ini terjadi karena sikap pesimis terhadap kualitas pendidikan dalam negeri, dan menganggab kulitas pendidikan luar negeri lebih baik. Yang sering dijadikan pembelaan terhadap anggapan ini adalah pendidikan di luar negeri lebih terfasilitasi dari sisi peralatan dan lebih mudah menembus jaringan ilmiah international. Maklum saja, apalagi untuk Universitas di negara dimana bahasa inggris sebagai bahasa utama, otomatis untuk menembus paper ilmiah international lebih mudah dari sisi bahasa karena tidak terkendala masalah bahasa. Diakui oleh pembimbing saya di Jepang, bahwa sebenarnya paper-paper ilmiah Jepang itu tidak kalah dengan yang dari barat, hanya saja bahasa yang dipake Jepang bukan bahasa inggris, jadinya paper yang ada hanya bernilai nasional. Sama dengan Indonesia, paper berbahasa Indonesia dan dipublish di journal Indonesia belum tentu kalah dari paper international, hanya saja bahasanya bukan bahasa inggris jadi hanya sebatas paper nasional.

Apakah kualitas pendidikan Indonesia kalah dengan luar negeri?

Sebenarnya secara pribadi saya lihat pendidikan Indonesia tidak kalah dengan pendidikan luar negeri. Hanya saja mau ndak mau beberapa poin Indonesia masih kalah, semisal dalam peralatan, birokrasi, grant penelitian dll. dimana di luar negeri seperti Jepang, poin-poin tersebut tidaklah sulit dengan birokrasi yang jelas. Mungkin akan ada yang bilang karena system Indonesia memang seperti itu, itulah yang perlu diperbaiki bersama baik dari pihak pemangku kekuasan ataupun penerima dan pengguna system.

Trus kemudian apakah benar jika lulusan luar negeri lebih baik lulusan dalam negeri?

Tidak juga, banyak lulusan dalam negeri yang tidak kalah kualitasnya dengan lulusan luar negeri. Hanya saja mereka tidak memiliki kesempatan untuk menimba ilmu di luar negeri. Dan tidak semua lulusan luar negeri itu berkualitas. Beberapa saya yakin hanya beruntung bisa kuliar di luar negeri.

Banyak yang menimba ilmu ke luar negeri karena bergengsi, bisa pulang dengan embel-embel gelar luar negeri seperti M.Sc, M.Eng, D.Eng, atau PhD (padahal gelar tersebut juga bisa didapat di UGM). Ketika pulang berpikir akan mendapatkan prioritas dalam bekerja. Atau bahkan ada yang beranggapan sebelum pulang sudah ada yang menawari kerja. Tidaklah salah anggapan seperti itu. Tapi jangan terlalu berharap, dalam bahasa jawa orang-orang seperti itu disebut “kegeden karep”, artinya orang yang terlalu berangan-angan.

Ada juga yang keluar negeri karena kesempatan yang ada hanya itu. Mungkin jika pada saat yang sama mendapat kesempatan study di dalam negeri, belum tentu akan memilih ke luar negeri. Pertimbangan lain adalah bisa bekerja part time jika beasiswa yang didapat tidaklah mencover semuanya. Bahkan ada teman yang datang belajar ke Jepang dengan biaya sendiri, dia bukan orang mampu, tapi dia ada kemauan yang kuat untuk study lanjut. Dan kesempatan itu bisa jadi kenyataan jika dia memilih untuk belajar di Jepang. Kenapa?
1. Karena untuk biaya kuliah bisa mengajukan keringanan atau bahkan pembebasan.
2. Untuk kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan kuliah, bisa kerja part time. Jepang menerapkan system bolehnya warga asing dengan visa non kerja (bisa pelajar, atau keluarga) untuk bekerja, dengan catatan dibawah 28 jam per minggu. Hal ini dimanfaatkan oleh mahasiswa asing untuk mencukupi kebutuhan pendidikan dan hidupnya di Jepang. Berbeda ketika study lanjut di Indonesia, kerja part time tidaklah semenghasilkan di luar negeri. So dari kerja part time saja akan sangat berat untuk menanggung biaya kuliah dan biaya hidup. Dan sistem bebas SPP tidaklah segampang di Jepang, di Jepang lebih gampang karena statusnya sebagai pelajar asing, jadi mendapat prioritas lebih. Plus sistem pembebasan SPP di Jepang juga diberlakukan dengan baik. Tapi kasus mudahnya pembebasan SPP ini hanya berlaku untuk universitas negeri, untuk universitas swasta sangatlah susah untuk mendapatkan pembebasan, jikapun bisa maksimum 50%.

picture3
Tiga tipe orang yang belajar ke luar negeri;

Jika anda belajar ke luar negeri, dimanakah posisi anda?

Saya pernah berdikusi dengan seorang pejabat di Kedubes RI di Jepang. Beliau bercerita tentang manjanya orang yang belajar di luar negeri. Beliau pernah mendapat keluhan dari beberapa pelajar Indonesia di Jepang.

“Pak, kita sudah capek-capek belajar ke luar negeri. Tapi ketika kita kembali ke Indonesia, kita tidak ada kepastian tentang pekerjaan. Makanya banyak yang tidak pulang ke Indonesia karena tidak ada kepastian pekerjaan itu pak. Seharusnya pemerintah menyediakan pekerjaan bagi lulusan luar negeri agar mereka mau pulang”

Mendengar keluhan tersebut beliau menjawab; Kalian itu manja. Belajar ke luar negeri sudah dibiayai. Kembali masih minta jatah. Seharusnya kalian mandiri, sudah dikasih hati minta jantung. Kalian juga jangan merendahkan lulusan dalam negeri, kalian belum tentu lebih baik dari mereka. Kalian harus bersaing juga dengan mereka.

Banyak orang Indonesia yang setelah lulus dari luar negeri tidak mau kembali ke tanah air. Alasan ketidakpastian pekerjaan dan tidak mendapatkan tempat di Indonesia sering dijadikan pembelaan untuk tidak pulang ke Indonesia. Jika merasa dirinya lebih baik, seharusnya pulang dan menunjukkan diri lebih baik. Bukan minta ini minta itu. Risih mendengar kata diskriminasi, tapi giliran diskriminasi itu menguntungkan diri sendiri (diskriminasi lulusan luar negeri lebih baik dibanding lulusan dalam negeri red.) jadi acuh terhadap diskrimasi.

Ketika berada di Indonesia, lulusan luar negeri dan dalam negeri harus bersaing. Skill dan kemampuan yang akan membuktikan mana yang lebih baik. Tapi satu yang harus diingat, tujuan utama harus “UNTUK MEMBANGUN NEGERI”.

Baca juga:
Curhatan Hati Pelajar Rantau
Kamu Akan selalu Menemukan Orang Baik dimanapun; Terimakasih dan Jasamu Tidak Akan Kulupakan

Iklan

2 Comments Add yours

  1. ilham berkata:

    keren artikelnya bung, betul juga sih. Makasih dan ini merupakan pembelajaran buat saya pribadi

    Suka

  2. Zuhud Rozaki berkata:

    Terimakasih atas komentarnya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s