Menuntun Pendosa

Aku berlepas diri dari seorang muslim yang menempati tempat tinggal kaum musyrikin.
(Al Hadist)

Kita harus berhati-hati dalam berucap, apalagi menyampaikan pendapat kita tentang ibadah. Ulama ketika berfatwa saja perlu istikharah dan mempertimbangkan dengan seksama tentang fatwanya tersebut. Bukan bermaksud menyamakan fatwa dengan ucapan kita, itu hanya sekedar penggambaran. Ucapan kita dalam rangka ingin menunjukkan ke seseorang bahwa kita seperti ini (apalagi dalam ibadah), dan orang lain mengikuti, akan ada dua konsekuensi yang mungkin muncul;
1. Jika yang kita ucapkan dan mempengaruhi orang lain tersebut adalah sebuah kebaikan, makan InsyaAlloh kita akan mendapat pahala orang yang meniru kita tanpa mengurangi pahala orang tersebut.
2. Jika yang kita ucapkan dan mempengaruhi orang lain tersebut adalah sebuah keburukan, maka InsyaAlloh kita akan mendapat dosa orang yang meniru kita tanpa mengurangi dosa orang tersebut.

7. barangsiapa yang memperbuat kebaikan seukuran zarrah, maka kelak orang itu akan mendapati hal tersebut, 8. sedangkan barangsiapa yang memperbuat kejahatan seukuran zarrah, maka kelak orang itu akan mendapati hal tersebut.
(QS. Al Zalzalah ayat 7-8)

Apabila manusia meninggal, amalnya akan terputus, kecuali 3 hal: ‘Sedekah Jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakannya.
(Al Hadist)

Mungkin kita terbiasa dengan istilah amal jariyah, dimana ketika kita meninggalpun amal tersebut akan terus mengalir. Hal tersebut juga berlaku untuk dosa, yaitu dosa jariyah, dimana dosa tersebut akan terus mengalir meskipun kita meninggal.

Ilmu adalah salah satu bentuk jariyah, jika ilmu tersebut adalah ilmu kebaikan, maka akan jadi amal jariyah. Tapi jika ilmu tersebut ilmu keburukan, makan akan jadi dosa jariyah. Ucapan kita itu bisa berarti ilmu, apalagi jika didukung dengan berbagai ulasan dan alasan.

Hidup di luar negeri

Istri ketika jadi mahasiswa S1 pernah ikut pertukaran pelajar ke Korea, terkait dengan makanan tentunya tidak tahu apa-apa. Jalan keluarnya dengan bertanya senior yang sudah berada di Korea lebih dulu. Sangat disayangkan, senior tersebut mengajarkan bahwa “asal bukan babi tidak apa-apa, orang Indonesia di sini seperti itu”. Akhirnya istri saya mengikutinya, makan semua asal bukan babi. Apakah itu dibenarkan dalam agama? Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa tidak dibenarkan. Islam sudah mengatur bahwa makanan harus halal. Makanan non halal bisa dikonsumsi ketika dalam keadaan darurat; apakah mereka dalam keadaan darurat? Apakah tidak ada makanan lain?

Ternyata hal tersebut tidak hanya terjadi di Korea. Saya mendengar bahwa orang-orang muslim Indonesia yang tinggal di negara non muslim banyak (tidak semua) yang memakai dalil “asal bukan babi” dalam mengkonsumsi makanan. Apalagi di Eropa, karena beranggapan bahwa daging disana itu hasil sembelihan ahli kitab (kristen red.) jadi bisa dikonsumsi. Saya kira itu hak masing-masing, dosa juga ditanggung sendiri. Yang sangat disesalkan adalah ketika ada orang baru datang, para senior menginformasikan hal yang senior itu anggab benar yaitu daging disini halal karena disembelih ahli kitab. Dimana efeknya orang baru akan mengikutinya karena ada yang seperti itu, jadinya merasa aman dan merasa itu benar. Perlu dipahami, apakah orang kristen sekarang itu adalah ahli kitab seperti yang disampaikan dalam Al Qur’an? Seperti yang diketahui bahwa kitab bibel mereka bukanlan bibel dari Nabi Isa As.

Di Jepang sendiri juga ada yang seperti itu, tanpa ilmu agama yang memadahi membuat fatwa sendiri bahwa makan daging tidak apa-apa asal bukan babi. Kemudian pemahaman tersebut disampaikan ke orang lain dan ada yang mengikuti. Sangat disayangkan ilmu yang disalurkan adalah ilmu yang tidak benar. Terkait dengan makanan, sangat mudah menemukan makanan non haram di Jepang; ada sayur, telur, ikan seabreg dan tentunya nasi. Kenapa harus daging? Dan menabrak hukum halal haram? padahal makanan non haram lainnya masih banyak dan dengan mudah ditemukan. Itulah yang sangat disayangkan.

Saat ini sedang momentum natal, yang merupakan hari besar umat kristiani. Perbincangan tentang boleh tidaknya mengucapkan selamat natal dan mengikuti acara natalan masih hangat. Setiap tahun perbincangan ini selalu muncul. Nampaknya fatwa MUI tentang larangan mengikuti acara natalan tidak mempan, padahal fatwa ini sudah ada sejak 1981. Dengan dalih ini itu, banyak yang membandel dengan fatwa MUI ini. Alasan utama fatwa tersebut adalah karena acara natalan bersifat ibadah, jadi tidak boleh diikuti. Sedangkan ucapan selamat natal juga lebih baik tidak dilakukan karena itu mengakui kelahiran tuhan umat kristen. Untuk pembahasan boleh tidaknya mengucapkan selamat natal dan mengikuti acara natalan, tidak akan dibahas panjang lebar disini. Silahkan mencari referensi ditempat lain.

Beberapa waktu yang lalu ada status orang Islam Indonesia yang tinggal di Inggris. Isinya menyampaikan pendapatnya sebagai kaum minoritas harus bisa beradaptasi;
1. Makan daging yang tidak berlabel halal
2. Mengucapkan natal
3. Mengikuti pesta natal dan bertukan kado
4. Mengikuti misa natal
Sangat lucu sekali bentuk adaptasinya dalam hal ibadah. Status tersebut dishare oleh banyak orang dan dishare juga oleh fanpage “Indonesia Mengajar”, langsung saja saat itu pula saya unlike fanpage ini. Dia menyampaikan poin-poin tadi dengan berbagai ulasan dan alasan. Sangat banyak mendapat pujian, apalagi dari non islam. Sangat disayangkan dia menulis status tersebut, jikalau hanya dia yang melakukannya, maka jika berdosa maka dosanya pasti hanya dari dia sendiri. Tapi dia mempublishnya di facebook dan dishare oleh sekian banyak orang, ada orang Islam disitu. Bagaimana jika mereka mengikuti jejak dia? Otomatis dosa jariyah tadi akan berlaku disitu. Apa yang dilakukannya tersebut adalah bukan hal yang aman terkait dengan dosa, sudah banyak ulama yang menyampaikan bahwa tindakan-tindakan tersebut tidaklah benar.

Sangat wajarlah jika Rosululloh SAW bersabda:

Aku berlepas diri dari seorang muslim yang menempati tempat tinggal kaum musyrikin.
(Al Hadist)

Karena banyak godaan ketika tinggal di negara non Islam. Bentuk adaptasi di negara non Islam bukanlah dengan mengikuti ibadah mereka. Dengan penjelasan yang baik dan benar, orang lokal akan mengerti jika kita tidak bisa mengikuti sesuatu yang menyangkut ibadah agama lain. Di Jepang sendiri juga banyak yang jadi paham dan toleran setelah dijelaskan tentang makanan halal dan ibadah seorang muslim. Tidak perlu pergi ke kuil untuk ikut melempar koin dan berdoa, atau ikut makan daging dan sebagainya. Adaptasi adalah bukan dengan mengikuti ibadah agama lain.

“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.”
(QS. Al Kafirun ayat 6)

Kita harus berhati-hati, jika apa yang kita lakukan tidak ada tuntunannya, atau sudah ada yang melarang, lebih baik kita hindari. Jika melakukannya, tidak usahlah mencari pembelaan dengan alasan tinggal di negara kafir dll. Lebih-lebih jauhilan untuk mempengaruhi orang lain agar sama dengan kita.

Karena sangat ditakutkan “dosa jariyah” akan jadi “ON” dalam hidup kita. Dan kita jadi MENUNTUN PENDOSA.

Wallohualam bissowaf

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s