Maaf ya Alloh, banyak kesalahan kulakukan, tak seharusnya yang meningkat itu dosa, tapi itulah yang kulakukan. Tak memandang tempat dan kawan, selalu dosa yang aku lakukan. Aku tak tahu, apakah aku bisa bertaubat untuk mendapatkan hidayahMU. Maafkan aku ya Alloh, memang tak pantas hamba selalu minta maaf tapi tak ada perbaikan yang dilakukan. Maaf ya Alloh, kuteliti dan kuingat, hampir semua keinginanku engkau kabulkan. Tapi aku tidak membalasnya dengan beribadah yang baik kepadaMU. Maafkan aku ya Alloh, terimakasih atas semua nikmat yang engkau anugerahkan kepadaku. Kuharap Engkau tidak mencabutku sebelum aku bertobat ya Alloh. Semoga Engkau tetap menganugerahkan nikmat-nikmatMU kepadaku ini.Amin
Maaf Ayah, sepeninggal Ayah, aku baru sadar betapa berharganya seorang Ayah. Aku baru sadar, ternyata engkau adalah Ayah luarbiasa.ku. Aku baru menyesali banyak tindakanku padaMU selama engkau hidup, aku sangat jarang menuruti keinginanMU. Aku belum sempat membuatmu bangga (aku sekarang kuliah di Jepang Yah…). Seandainya Ayah masih hidup, Ayah bisa cerita ke teman Ayah kalau Ayah punya anak yang bisa kuliah di Jepang (alangkah bangganya Ayah ya….). Aku kangen mencium tanganMU sebelum berangkat sekolah. Aku mencoba melakukannya pada Ibu, tapi aku malu. Aku tak tahu, kenapa hal seindah itu aku malu. Aku kangen senyum dan bercandaanMU. Aku sangat bersyukur mendapatkan Ayah sepertiMU, ilmuku lengkap, aku bisa mengaji, aku bisa mendapat peringkat di kelas. Maaf Ayah, ketika datang kabar engkau telah tiada, tak setetes air matapun jatuh dari mataku. Aku tak tahu Ayah, apa yang terjadi padaku saat itu, kepala hampa, hati tak terasa, hanya perasaan bingung. Tapi air mata ini menetes juga Ayah, ketika aku mengingat kebaikanMU padaku. Semoga Ayah mengerti. Ayah, semoga engkau tenang disana, dan diberikan tempat terbaik disisi Alloh. Salam Kangen, dari anak bungsumu ini.
Maaf Ibu, seharusnya mungkin aku sudah bekerja dan meringankan beban Ibu. Maaf Ibu, bukannya aku meringankan beban Ibu, tapi malah membebani Ibu dengan sekolah lagi. Maaf Ibu, aku tak tahu apakah Ibu bangga dengan keputusanku ini sesuai keinginanku atau tidak, aku ingin memberikan kebanggaan untuk Ibu dengan kuliah yang tinggi dan di luar negeri. Tapi apakah betul itu keinginanku yang sebenarnya, sepertinya PAMER/SOMBONG itulah yang paling memenuhi hatiku. Maaf Ibu, aku belum bisa memberikan apa-apa untukMU. Semoga engkau bangga denganku, aku akan mencoba mencetak banyak prestasi agar engkau bangga, dan semoga akan segera datang kesempatan untuk membahagiakanMU. Maaf Ibu, ku menjadi beban lagi untukMU yang kesekian kalinya, tak tahu bagaimana aku bisa membalasnya. Maaf Ibu, aku meninggalkanmu pada saat engkau menikmati masa tuaMU. Mungkin bila aku di rumah, keceriaan akan bertambah. Tapi dengan dirumah, aku takut beban apa lagi yang akan aku tumpuk di bahuMU. Maaf Ibu, aku tidak bisa memberikan kepastian akan masa depanku kepadaMU. Kuyakin engkau ingin aku sejahtera dan merawat Ibu. Masadepanku masih tertutup kabut takdir, hanya waktu yang mampu menyibaknya. Doakan Ibu, aku menjadi anakMU yang mampu membahagianMU di masa tuaMU.

Maaf kakak-kakakku tersayang, adikmu ini hanya bisa memberikan beban. Hanya bisa merengek-rengek ingin dipenuhi keinginannya. Maaf kakak-kakakku yang baik hati, tanpa kalian, hidupku tidak penuh. Kalian adalah Ayah keduaku. Aku sayang kalian.
Maaf paman, banyak hal kami bebankan untukmu sepeninggal Ayahku. Engkau baik pada kami, engkau pengertian pada kami, walaupun engkau memiliki beban sendiri mengurus keluarga. Maaf paman, terimakasih.
Sepupu-sepupuku yang aku banggakan dan aku sayangi, kalian selalu menebar senyum untukku. Aku tak tahu apa yang kalian pikirkan ketika bertemu denganku. Tapi kalian selalu bersikap ramah kepadaku. Selalu tertawa ketika aku bercanda, selalu memperhatikan ketika mendengarku bercerita. Maaf sepupu-sepupuku, terimakasih dariku.
Teman-temanku (Mendungsari), maafkan aku teman. Sekian lama aku mencoba tetap eksis, malah kemelorotan yang terjadi, lebih mengerikan lagi aku pergi dari semuanya. Maafkan aku teman, mungkin ketika aku disana, banyak tindakan yang tidak tepat kubuat, karena jujur, itu kulakukan untuk mencari enak dan aman saja. Maafkan aku teman, mungkin aku kurang ikhlas dalam membersamai kalian. Semoga pemuda Mendungsari tetap ada, mohon tetap ada yang mau berkorban mengurusi semuanya, tak peduli ada cercaan dan protes. Maafkan aku teman, semoga kalian sabar. Terimakasih atas kesabaran kalian.
Teman-temanku (PKP), maafkanku teman. Mungkin aku bersikap sombong pada kalian. Tapi itu kulakukan agar aku mendapat perhatian dari kalian. Aku tak punya kelebihan, sehingga aku bersikap seperti itu. Maafkan kata-kata bercandaanku yang menyakiti kalian. Kuyakin banyak dari kalian yang sakit hati. Maafkan aku teman, terimakasih kuucapkan..
Teman-temanku (BEM), maafkan aku teman. Banyak hal kudapat dari kalian. Tapi aku hanya bisa marah-marah dan menyalahkan kalian. Itulah sikapku sebenarnya, maafkan aku teman. Tanpa kalian, perjuanganku tak akan sejauh ini. Maaf teman, terimakasih banyak.
Teman-temaku (Gifu), maafkan aku. Aku tak tahu apa yang terjadi padaku. Tapi yang kau lihat dan kau rasakan itulah sifatku sebenarnya. Suka menyalahkan, membentak-bentak kalian, merusak suasana dengan tidak bersemangat di depan kalian. Mohon kalian mengerti, dan jangan sekali-kali menjauh dariku, aku butuh kalian. Maaf temanku, terimakasih dariku.
Teman-temanku (MAN, UNS, sepermainan. dll), maafkan aku teman. Mungkin kalian merasa aku berubah dari waktu ke waktu, berubah menjadi pribadi yang tidak peduli, berubah menjadi pribadi yang angkuh atau yang lainnya. Maafkan aku teman, itu semua memang murni kesalahanku. Mungkin karena aku terlalu banyak berpikir tentang masa depan. Atau terlalu banyak berpikir tentang beban-beban yang ada dipundakku. Tapi kalian selalu riang menyapa dan mengajakku bermain. Terimakasih banyak atas pengertian kalian.
Semua kata diatas jujur adalah diriku.
23:58 (Waktu Gifu, Jepang), 30 Desember 2011
Zuhud Rozaki